SALAH PANCING Oleh : Agung Dirga Kusuma Langit pagi ini berisi matahari setengah sembunyi dan gumpalan awan putih tertata rapi. Terdengar suara gemericik air dipadukan dengan suara rautan bambu membentuk sebuah harmonisasi nada yang indah. Sekelompok anak sedang duduk melingkar di pinggir sungai lengkap dengan peralatan memancing. Bambu, tali pancing, kail, timah dan sebungkus cacing tanah yang telah di siapkan dari rumah. Butet nama pemimpin mereka, seorang anak kelas lima SD di Desa Tegal Sari, dia merupakan anak yang paling tua di kelompoknya, sebut saja Sutha, Yono, dan Parmin anggota kelompoknya. Mereka masing-masing masih duduk di kelas empat SD. Mereka sebut ini adalah bulan Desember ceria, dimana waktu liburan sekolah mereka isi dengan kegiatan memancing di dukung dengan hembusan angin semilir sejuk sampai ke hati. “Bagaimana teman-teman, sudah siap!” seru Butet. “Sebentar, belum siap!” Jawab Yono, sambil memasukkan seuntai tali pancing ke dalam kail kecil di tangan kanannya. Sambil menunggu Yono yang sedang sibuk mempersiapkan peralatanya, yang lain asik memasang cacik yang masih meliuk-liuk seakan memberontak tak ingin mengakhiri hidupnya dimakan ikan. Hari mulai tak bersahabat, terik matahari yang menyengat menembus pakaian mereka. Sudah sekitar tiga jam mereka duduk sabar menunggu ikan yang tersangkut di kail mereka. Tidak ada satupun ikan yang ingin memakan umpan mereka. “Apakah raja cacing sudah menghadap raja ikan agar rakyat cacing tidak dimakan saat dijadikan umpan bagi para pemancing?” kata Parmin. “ Bukankah raja ikan tahun kemarin sudah kita tangkap?” celetukan Sutha seakan mencairkan suasana. Tidak lama mereka bercanda gurau, tiba-tiba pancing Yono ada yang menarik. Ternyata benar ikan pertama jadi milik Yono, ukurannya lumayan besar untuk standar ikan di sungai. Kelihatan tidak mau kalah, Butet, Sutha, dan Parmin jadi bersemangat untuk mendapat ikan. “Ternyata ratu ikan yang ku tangkap.” Teriak Yono senang. “Mungkin panglima perang atau putra mahkota yang akan ku tangkap selanjutnya!” Butet tak mau kalah. Semangat mereka ternyata berbuah hasil, Butet berhasil menangkap panglima perang ikan (Semacam Ikan Lele yang memiliki senjata di kedua sisi mulutnya). Parmin menyusul, tapi bukan putra mahkota yang dia dapat, melainkan rakyat jelata yang masih muda. Hari mulai semakin sore, matahari yang tadinya semangat menyerang kulit mereka sudah bosan untuk bermain hari ini. Butet, Parmin, dan yono yang sudah mendapat ikan masing-masing dua sudah menampakkan lesung pipit di pipi kirinya. Sutha yang tak kunjung mendapat ikan tak kehabisan akal. Sewaktu semua temannya asik menunggu ikan terakhir di sungai. Tiba-tiba Sutha berteriak. “Hore, aku dapat!, besar pula. Ini lebih dari raja ikan sekalipun, mungkin Dewa ikan” Serentak mereka melihat kearah Sutha yang sedang berteriak. Ternyata pancing Sutha masuk ke dalam ember Yono. Ikan yang dikira Dewa ternyata adalah ratu ikan milik Yono. Mereka langsung menertawakan Sutha yang salah tangkap. Bukan Dewa yang ditangkap melainkan ratu ikan milik Yono. Hari semakin gelap. Bunyi jangkrik dan katak yang bersahut-sahutan menjadi pertanda mereka harus pulang. Walaupun Sutha tidak medapat ikan, sutha tetap pulang membawa ikan. Ikan hasil tangkapan mereka dibagi rata. Memang sudah menjadi kebiasaan mereka untuk hidup saling berbagi.
Salam Multikultural. . .
Spirit Sosiologi...!!!!
:)
Popular Posts
-
MONUMEN JOGJA KEMBALI Makalah ini disusun guna melengkapi tugas mata kuliah Sosiologi Pariwisata Dosen pengampu : V. Indah Sri Pinasti,...
-
JURUSAN/PRODI : PENDIDIKAN SOSIOLOGI SEMESTER : GENAP/UAS/Th.2012 MATA KULIAH : SOSIOLOGI PARIWISATA DOSEN : V. Indah Sri Pinasti, M, Si. ...
-
Perspektif Teori Struktural Fungsional Perspektif teori struktural fungsional memiliki akar pada pemikiran Emile Durkheim dan Max Weber, d...
Recent Posts
Recent Comments
Subscribe
Subscribe by Email
Diberdayakan oleh Blogger.



0 komentar:
Posting Komentar