Sosiologi Pariwisata

Posted in Kamis, 22 Desember 2011
by satria

PAPER KAJIAN SOSIOLOGI PARIWISATA DALAM PERANAN OBJEK WISATA DIY DALAM PROSES PERKEMBANGAN KEPARIWISATAAN DI DIY Disusun Oleh : Nama : Agung Dirga Kusuma Nim : 10413241027 Prodi : Pendidikan Sosiologi Dosen Pengampu : V. INDAH SRI PINASTI, M, Si. A. Latar Belakang Masalah Indonesia kaya akan sumber daya alam, keunikan budaya serta tempat bersejarah masa lalu. Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan daerah yang memiliki potensi, kesempatan dan peluang untuk mengembangkan potensi wisatanya. Disisi lain pengembangan daerah wisata merupakan peluang untuk mengisi kesempatan kerja maupun peluang kesempatan berusaha bagi masyarakat. Potensi wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta meliputi wisata pantai, alam, gunung, agrobisnis, sejarah, budaya, seni dan wisata pendidikan yang diantaranya dapat menyalurkan potensi masyarakat. Selanjutnya disadari bahwa untuk pengembangan program wisata merupakan tantangan guna memenuhi tuntutan pasar. Tantangan tersebut dapat meliputi pengembangan program layanan jasa dan produk. Peningkatan daya tarik dan rancangan keunggulan. Hal ini semua sekaligus merupakan salah satu permasalahan saat ini. Pengembangan/pembangunan di bidang kepariwisataan di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta begitu pesat, hal ini sejalan dengan usia kepariwisataan di Yogyakarta terbilang matang. Namun demikian, pemerintah daerah harus selalu berusaha untuk mengembangkan kepariwisataan di Yogyakarta. Hal ini dilihat dari segi jumlah wisatawan mancanegara yang terus meningkat. Selain dilihat dari segi meningkatnya jumlah wisatawan mancanegara, juga dilihat dari segi potensi pariwisata dan berbagai keunggulan lainnya yang menunjang kepariwisataan di Yogyakarta. Seperti, potensi dan objek pariwisata yang bervariasi, keindahan alam poegunungan, objek budaya yang meliputi music dan tari, peninggalan historis yang tersebar luas di seluruh pelosok Daerah Istimewa Yogyakarta. Aspek geoografis Daerah Istimewa Yogyakarta yang cukup bagus di tunjang dengan transportasi yang begitu lengkap membuat Daerah Istimewa Yogyakarta layak menyandang predikat Provinsi Pariwisata. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana peran pemerintah dalam pengembangan pariwisata di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta? 2. Bagaimana peran masyarakat dalam pengembangan pariwisata di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta? 3. Apa pengaruh pembangunan di bidang kepariwisataan di DIY terhadap masyarakat DIY? 4. Bagaimana Peranan Pengembangan Objek wisata DIY terhadap proses perkembangan Kepariwisataan DIY? C. Kajian Teori 1. Teori Interaksionisme Simbolik Pokok perhatian interaksionis simbolik adalah dampak makna dan simbol pada tindakan dan interaksi manusia. dalam hal ini ada gunanya menggunakan gagasan Mead tentang petrbedaan perilaku tertutup dengan perilaku terbuka. Perilaku tertutup adalah proses berfikir, yang melibatkan simbol dan makna. Perilaku terbuka adalah perilaku aktual yang dilakukan oleh aktor. Beberapa perilaku terbuka tidak melibatkan perilaku tertutup (misalnya perilaku habitual atau respon tanpa berfikir terhadap stimulus eksternal). Namun kebanyakan tindakan manusia melibatkan kedua jenis perilaku tersebut. Perilaku tertutup menjadi pokok perhatian terpenting inteaksionis simbolis, sementara itu perilaku terbuka menjadi pokok perhatian terpenting para teoretisi pertukaran atau behavioris tradisional pada umumnya. Makna dan simbol memberi karakteristik khusus pada tindakan sosial (yang melibatkan aktor tunggal) dan interaksi sosial (yang melibatkan dua aktor atau lebih yang melakukan tindakan sosial secara timbal balik). Dengan kata lain, ketika melakukan suatu tindakan, orang juga mencoba memperkirakan dampaknya pada aktor lain yang terlibat. Meski sering kali terlibat dalam perilaku habitual tanpa berfikir, orang memiliki kapasitas untuk terlibat dalam tindakan sosial. Dalam proses interaksi sosial, secara simbolis orang mengomunikasikan makna kepada orang lain yang terlibat. Orang lain menafsirkan simbol-simbol tersebut dan mengarahkan respon tindakan berdasarkan penafsiran mereka. Dengan kata lain, dalam interaksi sosial aktor terlibat dalam proses pengaruh mempengaruhi. Christopher (2001) menamakan interaksi sosial dinamis ini dengan “tarian” yang melibatkan pasangan. Interaksionis simbolik tidak hanya tertarik pada sosialisasi namun pada interaksi secara umum, yang juga “punya arti penting tersendiri” (Blumer, 1969B:8). Interaksi adalah proses ketika kemampuan berfikir dikembangkan dan diekspresikan. Semua jenis interaksi, bukan hanya interaksi selama sosialisasi, memoles kemampuan berfikir kita. Diluar itu, berfikir membangaun proses interaksi. Pada sebagian besar inteaksi, aktor harus mempertimbangkan orang lain untuk memutuskan ya atau tidak dan bagaimana menyesuaikan aktifitas mereka dengan aktifitas orang lain. Namun tidak semua interaksi melibatkan proses berfikir. Pembedaan yang dilakukan Blumer(Mengikuti Mead) antara dua bentuk dasar Interaksi sosial relevan dalam pokok bahasan ini. Yang pertama yaitu interaksi non simbolis/gagasan Mead tentang percakapan gestur atau tidak melibatkan proses berfikir. Yang kedua interaksi simbolis memerlukan proses mental. (George Ritzer dan Douglas J. Goodman, 2010: 373) 2. Teori Struktural Fungsional Dalam teori menjelaskan bahwa masyarakat sebagai sistem sosial, terdiri dari bagian-bagian (subsistem)yang independent. Masing-masing bagian mempunyai fungsi-fungsi tertentu, yang berperan menjaga eksistensi dan berfungsinya sistem secara keseluruhan. Setiap elemen atau subsistem harus dikaji dalam hubungan dengan fungsi-fungsi dan perannya terhadap sistem, serta dilihat dari akibat yang ditimbulkan oleh perilaku suatu subsistem. Jadi, yang dilihat adalah fungsi real, bukan fungsi yang seharusnya. Apabila suatu sistem dapat mempertahankan batas-batasnya, maka sistem tersebut akan stabil. Berfungsinya masing-masing bagian (subsistem) dalam suatu sistem, akan menyebabkan sistem ada dalam keadaan equilibrium. Masyarakat yang equilibrium adalah masyarakat yang stabil, normal, karena semua faktor yang saling bertentangan telah melakukan keseimbangan. ( I Gde Pitana dan Putu G. Gyatri , 2005 :19) 3. Teori Perubahan Sosial Pitirim A. Sorokin berpendapat bahwa segenap usaha untuk mengemukakan adanya suatu kecenderungan yang tertentu dan tetap dalam perubahan-perubahan social tidak akan berhasil baik. Dia meragukan kebenaran akan adanya lingkaran perubahan-perubahan social tersebut. Akan tetapi, perubahan-perubahan tetap ada dan yang paling penting adalah lingkaran terjadinya gejala-gejala social harus dipelajari karena dengan jalan tersebut barulah akan dapat diperoleh suatu generalisasi. Kingsley Davis berpendapat bahwa perubahan social merupakan bagian dari perubahan kebudayaan. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagiannya, yaitu: kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat, dan seterusnya, bahkan perubahan-perubahan dalam bentuk serta aturan-aturan organisasi social. D. Pembahasan 1. Pariwisata Merupakan Fenomena Sosial Pada hakikatnya manusia adalah makhluk social, punya naluri untuk berhubungan dengan orang lain. Dalam masalah kepariwisataan, perjalanan wisata dari satu daerah ke daerah lain merupakan gejala social manusia yang selalu ingin melakukan hubungan dengan orang/bangsa lain. Dalam peradaban yang modern ini, pesatnya arus informasi, perkembangan teknologi komunikasi, ilmu pengetahuan, dan seni, menyebabkan orang tergerak untuk melakukan perjalanan wisata ke luar daerah bahkan ke luar batas wilayah negaranya. Kegiatan pariwisata yang identik dengan rekreasi ini merupakan salah satu dari bentuk aktivitas manusia, seperti dikemukakan oleh Michael Chubb, dkk. Dalam bukunya One Third of Our Time. Mengklasifikasikan aktivitas manusia menjadi lima hal, yaitu rekreasi, kebutuhan fisik, spiritual, pekerjaan dan pendidikan, serta tugas-tugas keluarga dan kemasyarakatan (Michael Chubb, 1981). Derasnya arus informasi dan promosi Negara tujuan wisata, semakin meningkatkan keinginan manusia untuk saling berkunjung ke Negara-negara tujuan wisata. Hal ini merupakan gejala yang mendasar dari manusia, yakni ingin menjalin hubungan dengan bangsa lain. Pada zaman yang modern ini, melakukan wisata atau melawat ke Negara lain, juga merupakan kebutuhan sekunder, karena disamping rekreasi mereka mempunyai motivasi yang beragam seperti untuk olahraga, pendidikan, dan kebudayaan. Dalam cakupan yang lebih luas, fenomena social yang erat kaitannya dengan kegiatan kepariwisataan adalah perjalanan wisata yang dikaitkan dengan kegiatan social. Seorang penyanyi yang melawat/melakukan perjalanan wisata untuk tur dan aksi social. Organisasi ibu-ibu menyelenggarakan perjalanan wisata bagi anak-anak yatim piatu merupakan salah satu bentuk dari perjalanan wisata sebagai perwujudan rasa social untuk membantu orang lain. Dapat disimpulkan bahwa fenomena social dalam kepariwisataan adalah kebutuhan dasar manusia untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Di samping itu, lebih luas lagi bias diartikan sebagai kegiatan wisata yang dibarengi dengan aksi social. 2. Peran Pemerintah Dalam Pengembangan Pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta Pemerintah memiliki strategi pengembangan dan pembangunan kepariwisataan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Diantaranya adalah : • Rencana Induk Pengembangan (RIP) Pariwisata Penyusunan RIP di setiap Provinsi mutlak diperlukan untuk pengembangan dan pembangunan pariwisata di daerah secara terencana dan terprogram. Baik bagi daerah yang sudah popular maupun yang belum. • Sebagai Prioritas pembangunan di Daerah Bidang pariwisata hendaknya diprioritaskan sebagai bidang yang ditangani secara serius dengan tetap memberikan porsi pada bidang-bidang yang lain. Terutama yang telah menjadi cirri khas suatu daerah, misalnya pertanian atau industry. • Pembangunan Sarana dan Prasarana a. Pembangunan jalan dan jembatan b. Pembangunan pelistrikan c. Pembangunan prasarana air minum d. Pembangunan air minum e. Pembangunan hotel baru f. Pembangunan sarana transportasi (darat, laut, dan udara) g. Pembangunan Sarana Terdidik • Pengadaan Tenaga Administrasi Semakin ramainya bisnis pariwisata, banyak diperlukan tenaga terdidik yang terampil dan siap kerja di bidang Industri Pariwisata. Industri pariwisata, termasuk dalam jajaran ini adalah : a. Akomodasi b. Restoran dan catering c. Biro perjalanan umum dan agen perjalanan d. Pramuwisata e. Cinderamata f. Angkutan wisata jalan raya • Promosi Pariwisata Banyak cara pemerintah dalam memperomosikan objek wisata yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta seperti promosi melalui surat kabar, media televise maupun melalui WEB supaya menarik wisatawan untuk berkunjung dan berwisata ke Yogyakarta. 3. Peran Masyarakat dalam Mendukung Pengembangan Pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta Masyarakat sangat mendukung dengan adanya pengembangan pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta. Berkembangannya kepariwisataan di DIY sangat membawa dampak positif bagi warga Yogyakarta itu sendiri. Sumber Daya Manusia Yogyakarta juga sangat mendukung untuk pengembangan daerah wisata Yogyakarta sendiri. Fakta lain membuktikan bahwa, terdapat tidak kurang dari 70.000 industri kerajinan tangan yang dikelola oleh masyarakat, dan sarana lain yang amat kondusif seperti fasilitas akomodasi dan transportasi yang amat beragam, aneka jasa boga, biro perjalanan umum, serta dukungan pramuwisata yang memadai, tim pengamanan wisata yang disebut sebagai Bhayangkara Wisata. Potensi ini masih ditambah lagi dengan letaknya yang bersebelahan dengan Propinsi Jawa Tengah, sehingga menambah keragaman obyek yang telah ada. Kedua, berkaitan dengan ragam spesifisitas obyek dengan karakter mantap dan unik seperti Kraton, Candi Prambanan, kerajinan perak di Kotagede. Spesifikasi obyek ini msih didukung oleh kombinasi obyek fisik dan obyek non fisik dalam paduan yang serasi. Kesemua faktor tersebut memperkuat daya saing DIY sebagai propinsi tujuan utama (primary destination) tidak saja bagi wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara. Sebutan Prawirotaman dan Sosrowijayan sebagai 'kampung internasional' membuktikan kedekatan atmosfir Yogyakarta dengan 'selera eksotisme' wisatawan mancanegara. Menurut penelitian Puslitbang Pariwisata pada tahun 1980, pariwisata Yogyakarta memiliki beberapa kekuatan daya tarik, seperti iklim yang baik, atraksi pemandangan yang beragam, budaya yang menarik dan sejarah, masyarakat yang ramah dan bersahabat, akomodasi khas, gaya hidup, harga yang pantas. 4. Pengaruh pembangunan di bidang kepariwisataan di DIY terhadap masyarakat DIY a. Pengaruh positif • Makin Luasnya Kesempatan Usaha Lapangan usaha yang dapat tumbuh guna menyediakan keperluan wisatawan cukup luas. Hotel, restoran, biro perjalanan, pramuwisata, tempat rekreasi, tempat penukaran uang, poerusahaan angkutan, took cenderamata, pusat perbelanjaan, pembentukan kelompok kesenian, dan lain sebagainya. • Makin luasnya Lapangan Kerja Untuk menjalankan usaha yang tumbuh dibutuhkan tenaga kerja, dan makin banyak wisatawan yang berkunjung makin banyak pula jebnis usaha yang tumbuh sehingga makin luas pula lapangan kerja yang tercipta. Lapangan kerja yang tercipta tidak hanya yang langsung berhubungan dengan pariwisata, tetapi juga di bidang yang tidak langsung berhubungan dengan pariwisata. • Meningkatnya pendapatan Masyarakat dan Pemerintah Meningkatnya pendapatan masyarakat dan pemerintah berasal dari pembelanjaan dan biaya yang dikeluarkan wisatawan selama perjalanan dan persinggahannya, seperti untuk hotel, makan dan minum, cenderamata, dan angkutan. • Mendorong Pelestarian Budaya dan Penggalan Sejarah Beraneka ragam tata cara, adat istiadat, kesenian, peninggalan sejarah yang menjadi daya tarik pariwisata, dan juga menjadi modal utama untuk mengembangkan pariwisata. Oleh karena itu, melalui pengembangan pariwisata, modal utama ini diupayakan agar terpe;lihara, dilestarikan bahkan dikembangkan. • Mendorong Terpeliharanya Lingkungan Hidup Melalui pengembangan pariwisata, keindahan dan kekayaan alam serta keberhasilan lingkungan didorong untuk dipelihara dan dilestarikan. • Terpeliharanya Keamanan dan Ketertiban Dengan dikembangkannya pariwisata, maka keamanan dan ketertiban didorong untuk ditingkatkan • Mendorong Peningkatan dan Pertumbuhan di Bidang Pembangunan Sektor Lainnya • Memperluas Wawasan Nusantara, Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa serta menumbuhkan Rasa Cinta Tanah Air b. Pengaruh negative • Harga di Daerah yang Menjadi Tujuan Pariwisata Makin Tinggi • Terjadi Pencemaran Lingkungan Alam dan Lingkungan Hidup • Terjadi Sifat ikut-ikutan oleh Masyarakat Setempat • Tumbuhnya Sifat Mental Materialistis • Tumbuhnya Pedagang Asongan • Tumbuhnya Sikap Meniru Wisatawan • Meningkatnya Tindak Pidana 5. Peranan Pengembangan Objek wisata DIY terhadap proses perkembangan Kepariwisataan DIY Pengembangan Objek wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta sedang gencar-gencarnya dilakukan pemerintah. Yogyakarta masih menduduki peringkat ke-dua setealah Bali sebagai pusat tujuan wisata, didukung dengan sumber manusia yang cerdas, bukan tidak mungkin nantinya Daerah Istimewa Yogyakarta akan menjadi Daerah Tujuan Wisata wajib bagi wisatawan local maupun mancanegara. Terbukti dengan adanya pembukaan objek wsata baru seperti pantai yang masih asli membuat meningkatnya wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Bukan hanya itu hal ini jug berdampak pada kepariwisataan di DIY. Pengelolaan kepariwisataan yang semakin baik dan terus berkembang akibat dari pengembangan objek wisata di DIY serta beraneka ragam objek menjadi daya tarik tersendiri. Fasilita umum, jalan, jembatan, transportasi, penginapan terus mengalami kemajuan pesat akibat dari adanya Pengembangan Daerh Tujuan Wisata. E. Kesimpulan Pariwisata juga merupakan fenomena social, banyak terdapat fenomena social yang terjadi terkaid dengan adanya fenomena social. Melihat prospek pengembangan objek wisata yang berdampak positif bagi pembangunan kepariwisataan daerah atau daerah itu sendiri. Adanya perluasan usaha, penyerapan tenaga kerja, perolehan devisa, dan peningkatan pendapatan per kapita merupakan dampak yang dirasakan secara umum akibat adanya pengembangan kepariwisataan di DIY. Ketiga teori, seperti teori Interaksionalisme simbolik yang berkaitan dengan kajian interaksi yang terjadi di daerah tujuan wisata, teori structural fungsional yang terkait dengan struktur yang ada dalam objek wisata tersebut baik struktur kepengurusan objek wisata maupun struktur masyarakat setempat, serta teori perub ahan social yang terkait dengan perubahan yang terjadi di sekitar daerah tujuan wisata setelah wisata itu dikemvbangkan. F. Referensi Karyono, A. Hari. 1997. Kepariwisataan. Jakarta: Gramedia Soekanto, Soerjono. 2009. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers Windiyarti, Dara. 1993. Dampak Pengembangan Pariwisata terhadap Kehidupan Sosial Di Daerah Timor Timur. Dili: Depdikbud