Sulitnya Komisi Pemberantasan Korupsi mengendus persembunyian Nunun Nurbaeti di luar negeri ternyata berkat kepintaran pengawal-pengawal Nunun. Itu sebabnya kendati Nunun sering muhibah dari Singapura, Thailand, Kamboja, Hong Kong dan Laos, jejak Nunun tetap sulit terlacak. Tersangka kasus suap cek pelawat saat pemilihan Deputi Gubernus Senior Miranda Goeltom pada 2004 itu selalu dijaga oleh lima pria kulit putih dan seorang warga negara Thailand. Seorang di antaranya, dikenali sebagai Philip B. Christensen, veteran marinir Amerika Serikat. “Mereka bergantian mengawal Nunun,” kata seorang sumber Tempo, seperti dilaporkan dalam laporan utama majalah itu, yang terbit pekan ini (Selengkapnya baca Tempo edisi 19-25 Desember 2011). Dua tahun dalam pelarian, Nunun tetap aman. Mesk Nunun masuk dalam daftar buruan Interpol sejak Mei lalu, dia tetap tak terlacak. Ada pria plontos, kulit putih, dan berbadan kekar ini selalu duduk tepat di samping kursi Nunun. Pada suatu ketika, Philip memperoleh kursi terpisah dari istri mantan Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Adang Daradjatun itu. Ia pun segera meminta awak pesawat memindahkan kursinya agar bisa duduk berdampingan dengan “klien”-nya. Pertengahan November lalu, Philip tertangkap kamera Bandar Udara Suvarnabhumi, Bangkok. Mengenakan celana jins, kemeja putih, dan jaket hitam, dia berjalan tepat di belakang Nunun. Matanya terkesan sedang mengawasi sekeliling. Adapun Nunun menutup rambutnya dengan kerudung yang diikat di bagian atas. Menurut sejumlah sumber, aparat Thailand mengintai beberapa saat sebelum mulai merangsek ke rumah. Mereka menunggu hingga Philip meninggalkan rumah itu. Ketika kemudian polisi masuk, Nunun hanya ditemani pengawal berkewarganegaraan Thailand dan seorang kerabatanya. Philip bukan orang asing bagi Adang. Ia tercatat dua kali masuk Indonesia. Pada satu kali kunjungannya, ia diketahui bertemu pensiunan jenderal bintang tiga itu di Restoran Batavia, Jakarta Pusat. Ditanyai soal ini, Adang menolak memberi penjelasan. “Anda kejar sampai kapan pun, saya tidak akan menjawab,” ujarnya. Sedangkan Troy Pederson, Atase Pers Kedutaan Amerika Serikat di Jakarta, menolak memberikan informasi tentang Philip. “Maaf, undang-undang kami melarangnya,” kata Pederson Selama pelarian di Bangkok, Thailand, Nunun Nurbaetie sesungguhnya tinggal di perumahan mewah. Komplek pemukiman Aqua Divina Urbano, semacam kawasan Menteng bagi Bangkok, dikenal sebagai hunian ekslusif atau semacam kawasan Menteng bagi Bangkok. Pemukiman itu tak jauh dari Bandar Udara Internasional Suvarnabhumi, hanya 12 kilometer atau sekitar 20 menit berkendara taksi. Terletak di timur pusat kota Bangkok, layaknya hunian eksklusif di Distrik Saphan Sung, penjagaan komplek cukup ketat. Tiga petugas keamanan berpakaian putih hitam tampak berjaga-jaga di pos penjagaan. Seluruh tamu yang masuk komplek, wajib lapor. Apalagi, kendaraan umum seperti taksi. Bukan taksi pun, petugas penjaga di pos utama selalu memelototi setiap kendaraan yang masuk. Tak terkecuali Tempo, yang Kamis 15 Desember 2011 lalu sedang menyelidiki “surga” persembunyian Nunun. Sekaligus rumah terakhir, sebelum polisi Thailand menjemputnya dan menyerahkan ke KPK di atas pesawat Garuda GA 867. (Lihat Beginilah Penangkapan Nunun di Bangkok Versi KPK) Nunun dibawa pulang ke Jakarta dengan menggunakan pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA 867 pada pukul 14.30 waktu di Bangkok. Kemudian tiba di Bandara Soerkarno-Hatta pada pukul 17.45 WIB. Sempat menghuni salah satu sel di Rumah Tahanan Pondok Bambu, Nunun dilarikan ke rumah sakit ketika mau diperiksa KPK. Begitu memasuki komplek itu, petugas keamanan itu langsung menyambar. Lolos di pos pertama, belum tentu lolos di pos kedua. Pos kedua, hanya seratus meter dari pos pertama. Disitu, sudah ada ortal untuk mencegat kendaraan. Setelah ditanyai ini-itu oleh petugas keamanan yang berwajah India, mereka yang bukan penghuni – termasuk supir taksi yang ditumpangi Tempo – mesti meninggalkan kartu identitas untuk ditukar dengan kartu tamu. Dari pos itu, rumah Nunun tinggal sekitar 300 meter. Belok kanan di pertigaan kelima, rumah yang diduga disewa Nunun ada di Jalan Nantawan 5, paling ujung di deret kiri jalan buntu itu. Rumah bernomor 98/34 itu tampak lengang. Pagarnya tertutup rapat-rapat. Sepeninggal Nunun, rumah tersebut dibiarkan melompong. Menolak menyebutkan siapa pemiliknya, seorang staf pemasaran perumahan yang berkantor di dekat pos penjagaan kedua juga mengaku tak tahu siapa penghuninya belakangan ini. Tapi, menurutnya, harga sewa rumah di Aqua Divina saban bulannya berkisar 35 ribu baht atau sekitar Rp 11-12 juta atau sekitar Rp 120 juta setahun. Adapun harga beli rumah ukuran 316 meter persegi, seperti yang pernah dihuni Nunun, 10 juta baht (Rp 2,88 miliar). Mahal? Bagi Nunun, itu cuma setara dengan harga satu tas favoritnya, yakni Hermes Birkin, yang harganya ratusan juta hingga miliaran rupiah. Nunun tinggal di rumah dua lantai dengan tiga kamar utama dan sebuah kamar pembantu itu. Garasinya bisa memuat dua mobil. Berdasarkan penelusuran Tempo di Thailand, rumah yang ditinggali Nunun disewa atas nama orang lain. Menurut sumber ini, si pengontrak adalah seorang pria kulit putih warga negara Amerika Serikat (lihat Pelindung Nunun Orang Amerika). Pria inilah yang melindungi Nunun selama hampir dua tahun ini. Sebulan lalu, pria pengusaha ini membawa Nunun ke rumah itu. Namun peruntungan Nunun agaknya sudah habis. Ia disergap polisi setempat di rumah 98/34 ketika sang pengusaha sedang tak mengawalnya. Siapa sebenarnya lelaki ini?