Cerpen

Posted in Selasa, 22 November 2011
by satria


SEPENGGAL CERITA SATRIA JADI SATRIA
Aku bergerak bangun dari tidurku menuju jendela kaca dan membukanya menggunakan kedua tanganku. Sejuknya hawa pagi seolah menyambut semangatku. Saat kulihat pohon manggis dekat kamarku, ada sekelompok burung gereja bersiul-siul gembira seperti pertanda akan ada kabar baik. Tidak ketinggalan canda-tawa induk ayam dan anak-anaknya seolah lengkap mengisi pagi yang indah. Teringat hari ini adalah hari pengumuman hasil tes SNMPTN bulan lalu yang kuikuti di Palembang. Jantungku berdegup kencang tak sabar melihat hasil pengumuman itu. Sejenak kutermenung berfikir kemana kaki melangkah jika aku tak lulus SNMPTN. Sambil menggeleng-gelengkan kepala, aku bergegas menghapus pikiran burukku dan langsung menuju kamar mandi.
Dengan modal uang Rp 5000,- untuk ongkos sewa warnet aku berjalan tegap menuju warnet dekat rumahku. Bunda terheran-heran memandangku yang terlalu bersemangat untuk melihat pengumuman itu. Aku berdiri di depan bilik warnet, bilik nomor tujuh. Sambil menyatukan telapak tanganku, Wido, seorang temanku datang menepuk bahuku dari belakang. Sekejap jantungku rasanya mau copot karena kaget akan kehadiran Wido yang menepuk bahuku setelah itu lewat di sampingku tanpa ekspresi. Kutengok layar komputer perlahan dari luar bilik warnet. Sambil menyiapkan mental gajah yang kuanggap besar dan kuat untuk menerima apapun hasilnya. Kudekati keyboard yang diletakkan di atas meja lalu perlahan kesepuluh jariku menatapnya dan mulai menekan mengetikkan sebuah kata kunci halaman pengumuman itu. Sejenak kumenutup mata dan kuhitung sampai tujuh dan membuka mata. Yang keluar dari mulutku cuma bisikan lirih karena sedih bercampur senang, “Hah… Alhamdulillah aku diterima, tapi Yogyakarta…” Suaraku seolah habis. Namaku tertulis di urutan pertama sebuah kertas yang menyatakan aku diterima di Universitas Negeri Yogyakarta prodi pendidikan sosiologi. Kebingungan mulai menghantuiku. Sekarang aku harus melanjutkan sekolahku di Yogyakarta, sebuah kota yang tak begitu asing di telingaku. Dengan cepat keluar dari bilik warnet dan membayar sewa, aku berlari kecil pulang menemui Bunda yang sedang duduk di bawah pohon sirsak.
“Bunda, Am diterima…”
“Diterima dimana kau,Sat?... di Yogyakarta atau di Bandung?...”
“Am diterima di Universitas Negeri Yogyakarta prodi pendidikan sosiologi…”
Ai, cocok tu… doa Bunda terkabul… kapan kau nak berangkat ke Yogyakarta, Sat?...”
“Am bingung Bunda, tapi senin besok sudah registrasi, ini sudah hari kamis, besok sabtu ada bis yang mau berangkat ke Yogyakarta…”
“Baguslah, besok sabtu kau berangkat…” beliau sangat senang sekali mendengar kabar ini.
Aku senang, keinginan Bunda untuk menyekolahkanku di Universitas Negeri Yogyakarta prodi pendidikan sosiologi terkabul. Tapi sebenarnya aku tidak mau jadi guru. Aku ingin menjadi seorang dokter. Semua seperti sudah digariskan oleh Tuhan, aku mencoba untuk menerimanya sepenuh hati.
Tidak biasanya, malam ini Bunda mengajakku berdiskusi. Dia menatapku dengan pandangan yang tajam dan sedikit menarik kedua sisi bibirnya. Di tangannya ada sebuah buku tabungan dan selembar surat. Seolah Bunda sudah siap mengirimku ke negeri seberang. Negeri dimana aku akan menimba ilmu dan membawa hasilnya untuk menggembangkan daerahku. Seperti ada bisikkan lirih di telingaku seolah menyuruhku siap dengan keputusan Bunda.
“Sat, kau sudah besar, sudah sepantasnya ananda merantau untuk masa depan ananda. Bukan maksud bunda untuk memaksamu sekolah jauh yang tidak sesuai dengan cita-citamu, tapi ini semua bunda lakukan demi masa depanmu…”
“Am ngerti Bunda. Tapi…”
Ape lagi yang kau pikirkan?...” sambil menajamkan pandangannya.
“Am bingung, am tak mau sendiri sekolah di negeri orang. tak ade satupun teman am yang lulus di Yogyakarta, Bunda…”
“Ah, sudahlah. Kau itu laki-laki, bisalah kau jage diri di sane. Coba kau pikirkan, Negara kita ni butuh yang namanya guru professional, cerdas, berkompeten, pintar dan berkarakter. Di Universitas Negeri Yogyakarta itu kau akan diajarkan menjadi guru yang seperti itu, untuk kemajuan pendidikan bangsa ini. Ape tak kalah mulia tu bila dibandengkan dengan dokter?... ”
Bunda tersenyum. Tangannya berusaha merangkulku untuk sedikit menenangkanku. Bunda memang seorang guru yang memimpikan anaknya untuk dapat menjadi seorang guru yang professional. Bunda pernah menjadi finalis guru berprestasi tingkat nasional tahun lalu. Bunda juga tidak setuju dengan banyaknya guru yang bukan berasal dari sekolah keguruan. Mungkin itu yang menjadi salah satu faktor kenapa Bunda menginginkanku menjadi seorang guru professional.
“Bagaimana kau setuju?...”
“Setuju, jika memang itu yang terbaik buat am…” dengan suara lirih.
Badanku terasa lesu, sebab kurang dari dua hari aku akan berangkat ke Yogyakarta untuk mencari ilmu demi masa depanku. Pikiranku kacau malam itu, seakan ingin memberontak menolak ketidak adilan ini. Akan tetapi ini semua demi kebaikanku di masa yang akan datang. Seketika aku melompat di atas kasur, melihat langit-langit yang bertuliskan cita-citaku. Dengan cepat aku menghapusnya dan menggantinya menjadi tulisan guru professional.  Padahal ini bukan pilihan hatiku. Bahkan aku belum yakin dengan keputusan ini. Kucoba memejamkan mata perlahan melupakan kerisauan hati malam ini.
Tinggal satu hari lagi, tak ada waktu untuk bersedih. Lebih baik aku mempersiapkan semua berkas untuk registrasi di UNY besok. Segala jenis surat, piagam sampai sapu tangan kesayangan, ku masukkan ke dalam koper hijau pemberian bibi waktu aku study tour ke Yogyakarta beberapa tahun yang lalu.
 

Hari sudah siang, tiba saatnya untuk berpamitan dengan sahabat-sahabatku. Dengan kaos bertuliskan “D’B2F2 best friends forever” saya bergegas untuk berpamitan dengan mereka. Betapa terkejutnya saya, ternyata mereka telah berkumpul di depan rumahku dengan muka ditekuk dan penuh kerisauan.
“Dek, kau mau berangkat ke Jogja besok?...” Tanya Mbak Endah.
“Iya Mbak, am besok pagi-pagi sekali akan berangkat ke Jogja…”
“Kami sudah mendengar kabar ini dari Bundamu yang bertemu kami di Pasar Dempo tadi pagi. Semangat ya dek. Walaupun jarak memisahkan kita, tapi kau selalu dekat di hati kami. D’B2F2 best friends forever. Tak ada banyak kata yang dapat kami katakana selain, berjuanglah demi masa depanmu kelak. Kita akan selalu merindukanmu dan mendengarkan ceritamu di saat kau pulang kelak…”
“Eem….” Hanya bisa terdiam dan tak kuasa mendengarnya sampai air mata keluar melewati sungai tawa. Tiba-tiba Norman angkat bicara, dia salah satu sahabatku.
“Kautak sendiri bro. ada Allah dan kedua malaikat yang akan selalu menemanimu…” Sembari memelukku mencoba memberikan sedikit kekuatannya untuk membuatku tegar.
Hari itu menjadi perpisahan sementara yang indah. Ada acara syukuran dan sedikit makan bersama yang dibuat bunda untuk sahabat-sahabatku. Tujuh jam bersama, tertawa bersama sekan menjadi memori indah yang takkan terlupakan. Air mata jatuh dengan sendirinya melengkapi perpisahan ini. tibalah waktunya untuk berpisah menentukan masa depan masing-masing.
 

Kutarik koper hijam yang sedikit kusam keluar rumah. Ayah, Nenek, dan Alfi sudah berada di depan pintu. Ayah langsung merangkulku. Kulihat matanya berkaca-kaca seperti tak kuasa untuk menyaksikan kepergianku ke negeri seberang.
“Hati-hati di negeri orang, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Pandai-pandailah mencari ilmu dan kelak kau bawa pulang untuk membangun kampungmu. Ayah tak bisa ikut mengantarmu, karna pekerjaan Ayah disini sangatlah banyak. Semoga kelak kau dapat menjadi seorang yang dapat berguna bagi orang lain.”
Setelah merangkul Nenek dan Alfi, adikku yang kini sudah duduk di bangku SMA. Tiba-tiba bus sudah sampai di depan rumahku.
“Sat, bus sudah mau berangkat. Bergegaslah naik…” kata Bunda.
Aku berangkat ke Yogyakarta tidak sendirian, Bunda akan mengantarku sampai ke Universitas Negeri Yogyakarta. Bus Sinar Dempo yang kami naiki penuh. Bunda duduk di kursi nomor dua puluh yang berada di tengah, sedangakan aku duduk di kursi nomor empat puluh lima yang ada di bagian belakang. Diampingku ada seorang anak kecil bernama Azam, kira-kira umurnya baru 8 tahun.
Bus yang kami naiki berwarna merah menyala, lengkap dengan AC, TV, DVD dan Selimut kecil pas untuk menyelimuti kaki di malam hari. Dua hari bukan sebuah perjalanan yang pendek. Dulu waktu SMA aku pernah study tour ke Yogyakarta. Perjalannya sangat panjang dan melelahkan. Sampai aku berfikir semoga bus yang kunaiki bisa sampai lebih cepat. Malam pertama di bus sangat menjenuhkan tak ada hiburan sama sekali. Azam tertidur pulas di bahuku. Semua terlihat sangat lelah. Disepanjang jalan hanya terlihat hutan. Akupun mulai ikut tertidur dan berharap bisa sampai lebih awal.


 

“Kak, bangun…” dengan menepuk pipiku.
“Kenapa Zam?”
“Sudah sampai di pelabuhan Bakauhuni. You nak turun tak?. Azam nak turun. Tengok pemandangan laut malam hari…”
“Oke. Jom lah…”
Kulihat Bunda tertidur pulas, saat ku bangunkan beliau sepertinya ingin tinggal di Bus saja. Beliau mau istirahat saja di dalam bus. Aku dan Azam bersama beberapa penumpang lainnya naik ke lantai dua kapal Very untuk melihat pemandangan laut di malam hari. Dua jam perjalanan ditempuh menggunakan kapal Very. Tibalah kami di pelabuhan Merak Banten. Selamat tinggal pulau Sumatera ucapku dalam hati.
Sudah mulai terlihat gedung-gedung tinggi dan bangunan-bangunan modern. Hatiku sedikit lega, karena berarti tidak lama lagi akan sampai.
“Kak, kau ni nak kemane?...” kata Azam.
“Am ni nak kuliah ke Jogja…”
Ala jauh kali kau kuliah sampai ke negeri orang. Akak Zam kuliah di Universitas Sriwijaya je yang dekat. Tak jauh macam awak…
“Am nak cari ilmu yang baek…”
Ape kuliah di Sumatera kurang baek Kak?” Sambil mengkerutkan keningnya.
Ala, bukan macam tu maksud akak ni. Semue tu baek, anye lebih baeklah. Sudahlah budak kecik nak tau je lah…”
Sampailah kami di restoran terakhir yang akan kami kunjungi. Dari Pagaralam sampai ke Kebumen semua restoran Padang. Mungkin selera makan sopir bus ini adalah masakan Padang, pikirku dalam hati. Kira-kira tiga jam lagi kami akan sampai di Yogyakarta. Jam sudah menunjukkan pukul 21:00 WIB. Kira-kira jam 00:00 WIB kami akan tiba di Yogyakarta.
Tepat jam 00:00 WIB kami tiba di Yogyakarta. Besok jam 08:00 aku harus registrasi di UNY. Bunda mengajakku menginap di Hotel dekan UNY, supaya besok pagi tidak tergesa-gesa. Lagipula aku dan Bunda tidak tau UNY alamatnya dimana. Akhirnya Bunda putuskan untuk naik taxi yang akan mengantarkan kami ke hotel UNY. Kami menginap di Hotel UNY. Ku buka pintu kamar dan langsung kulemparkan tubuhku ke kasur melepas lelah dua hari dalam perjalanan.


 

Pagi yang berbeda, tak terdengar suara kejantanan ayam pertanda matahari siap menjalankan tugasnya. Kicauan burung pun tak terdengar. Hanya suara lalu lalang kendaraan dan langkah kaki orang yang terdengar. Kuangkat kedua tangan sembari mengeluarkan suara “hoam…..” pertanda lelahku belum begitu hilang. Bergegas ku beranjak dari kasur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai shalat subuh, ku melangkah kedepan cermin, terlihat sosok seorang yang melepas pakaian dokter dan mengganti menjadi pakaian dinas di cermin. Sekejap ku gelengkan kepala untuk menghapusnya dan berbalik arah untuk mengambil perlengkapan untuk registrasi.
Bunda tidak mengantarku untuk registrasi hari itu, karena Tepat jam 13.00 WIB Bunda akan terbang ke Palembang untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang guru. Oleh karena itu beliau tidak mengantarku tetapi akan pergi ke Malioboro untuk membeli oleh-oleh, sebuah tempat wisata belanja yang terkenal di Yogyakarta.
Kulihat kanan-kiri nampak berbeda. Pemandangan yang kulihat pagi itu terasa asing. Tidak ada satupun orang yang ku kenal. Berat ku melangkah pagi itu. Sejelak menoleh kebelakang, Bunda sudah siap dengan kopernya untuk berangkat. Beliau berpamitan denganku. Pesan yang kuingat terakhir adalah “ Coba kau renungkan kata Imam Syafii’ nak. Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman, tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah berjuang.” Kulambaikan tangan kananku kearah Bunda yang naik trevel biru yang sedikit usang. Jantungku mulai berdegup saat trevel yang dinaiki Bunda sudah tidak terlihat lagi. Berlari menuju kamar, dengan cepat ku naiki tangga kecil di dalam hotel dan kututup pintu kamar dengan sisa tenaga yang kupunya. Lelahnya lebih dari berlari mengelilingi stadion Bung Karno selama duapuluh putaran, lelah di perasaan itu teramat lebih dari lelah fisik. Dengan sedikit kacau, kuputar lagu Rindu yang dipopulerkan oleh Krispatih yang menambah sendu suasana pagiku.
Tepat jam 09.00 aku berangkat meninggalkan hotel untuk melakukan registrasi di UNY. Kulihat petunjuk arah yang bewarna hijau dipasang di persimpangan. Belok kiri berarti menuju rektorat UNY, tempat registrasi mahasiswa baru berlangsung. Kulihat banyak sekali orang yang melakukan registrasi. Dari percakapan yang saya dengar, kebanyakan dari mereka adalah anak sekitar Yogyakarta, seperti Bantul, Sleman, Purworejo, dan Kebumen.
Tersenyum sejenak untuk membangkitkan semangat, berjalan menuju antrian untuk melakukan registrasi. Tak ada seorangpun yang kukenal saat itu. Registrasi telah usai, sekarang perasaan bingung yang sangat dahsyat yang menghantuiku.
“Mau Tinggal dimana ini?...”
Ku lihat ada anak laki-laki sebayaku, duduk sendiri di dekat Pohon Manding sebelah timur rektorat UNY. Ku beranikan diri untuk menghampirinya. Namanya Eka, mahasiswa baru jurusan Ekonomi yang berasal dari Wonosobo.
“Assalamualaikum…” Ucapku.
“Waalaikumsalam…”
“Satria…” sambil menyodorkan tangan kananku.
“Eka…” balasnya sambil tersenyum menjabat tanganku.
“Dari mana mas…?”
“Saya dari Wonosobo, kamu dari mana…?”
“Saya dari Pagaralam, Sumsel…”
“Jauh juga ya, sudah dapat kos?...”
“Eem… Belum mas…” jawab ku dengan semangat.
“Terus kamu tinggal dimana?...”
“Sementara saya tinggal di hotel UNY hari ini. saya juga bingung mau kemana, sebenarnya ada saudara saya di Bantul, tetapi sangat jauh jika ada keperluan ke kampus, lagipula saya belum punya kendaraan. Mas sudah dapat kos?...”
“Saya tidak kos, tetapi saya tinggal di Pondok Pesantren. Tidak jauh dari sini. Sat, sudah dulu ya saya mau pulang. Kamu hubungi nomor saya saja kalau butuh bantuan. Assalamualaikum…”
“Terimakasih Ka. Wassalamualaikum…”
Kulihat hari sudah mulai gelap. Bergegas pulang ke hotel untuk segera beres-beres barang. Semua sudah siap, tinggal hatiku yang belum siap. Kulemparkan tubuhku ke atas kasur, lalu kurentangkan kedua tanganku sambil menghadap langit-langit kamar. Hanya seuntai lampu yang menggantung dan hatiku yang kebingungan menjadi pemandangan langit-langit itu. Sejenak ku tersadar dalam lamunan, teringat aku mempunyai nomor handphone Eka, teman yang kutemui siang tadi. Masih dalam kebingungan, antara mau dan tidak mau, antara harus dan tidak, dan antara sekarang atau nanti. Seperti ada konflik dalam batinku. Ku coba untuk memberanikan diri menghubungi Eka walau dari SMS. Satu jam sudah berlalu, namun Eka belum juga membalas pesanku. Rasanya ingin menangis dan pulang, tapi aku adalah laki-laki. Sekarang sudah pukul 21.00 WIB. Waktu ku untuk keluar hotel tinggal tiga jam lagi. Sebelum terlalu malam, aku bersiap pergi meninggalkan hotel.
Perutku mulai tidak bersahabat, suara “kruck… krook…” mulai datang seolah memberontak ingin diisi makanan. Kulihat sekitar tidak ada warung makan, keriauan hati mulai bergejolak, tapi masih ada segenggam semangat yang tersisa, mungkin cukup untuk menutupi kerisauan hati saat itu. Malam itu kuputuskan untuk berkeliling kota Yogyakarta sampai menjelang pagi. Sejenak kakiku berhenti melangkah melihat sebuah gerobak yang sedikit usang dikerumuni oleh banyak orang. dibagian tengah gerobak itu ada berbagai jenis makanan. Tanpa pikir panjang lagi, perlahan kudekati gerobak itu dan ikut duduk di sana. Kebingunganku bukannya mereda tapi malah meningkat tajam. Aku bingung bagaimana cara mainnya makan di gerobak yang baru ketemui di Yogyakarta. Di sebelahku ada seorang laki-laki paruh baya tiba-tiba mengambil bungkusan putih kecil, setelah dibuka ternyata isinya nasi sambal. Dengan cepat kuikuti lelaki itu, kuambil satu bungkusan nasi itu, lalu kulihat laki-laki itu mengambil sate satu tusuk dan dua buah gorengan sebagai lauknya. Aku juga ikut mengambil makanan yang sama, untuk mengurangi resiko kesalahan teknis. Teringat dulu waktu kecil makan makanan yang ada di Restoran Sumatera, karena tidak tau aturan mainnya, aku mencicipi apa saja yang tersedia. Akhirnya aku membayar mahal, padahal yang kumakan hanya sedikit. Berangkat dari kejadian ituaku tidak mau mengulangi hal yang sama.
Malam mulai larut, keputusanku untuk berkeliling kota Yogyakarta kubatalkan. Ingin rasanya kembali lagi untuk menginap di hotel, tetapi tanggung sekali. Perlahan kulangkahkan kakiku, entah tidak tau mau kemana. Terus berjalan dan berjalan menelusuri dinginnya malam di kota budaya. Tiba-tiba aku berhenti melihat megahnya bagunan rektorat UNY di malam hari. Pintu gerbang masih di buka, tanpa pikir panjang aku bergegas masuk. Kulihat banyak sekali pohon-pohon yang rindang di dekat bangunan seperti tugu yang dikelilingi oleh air mancur. Kuletakkan koper hijauku di sebelah bahu kananku, melentangkan ke dua kaki ku dan bersandar di pohon taman rektorat. Beberapa kali kupandang dedaunan yang seolah menyapaku, sesekali daun itu menjatuhkan dirinya dan beberapa mengenaiku. Angin malam itu juga sangat bersahabat, semilir dia menyentuhku dengan penuh kesejukkan malam itu. Percikan air mancur seolah tak mau kalah ikut mengibur hatiku malam itu. Sejenak aku berfikir “Ini baru permulaan dari perjuangan hidupku untuk menggapai cita-cita baru, menapaki jejak masa depan yang dulu gelap menjadi sedikit terang dengan bantuan cahaya semangat hidupku.” Rasa bingung tetap menghampiriku, terasa sekali konflik yng terjadi dalam diriku malam itu. Ini baru sepenggal ceritaku, perjalanan satria jadi satria baru akan dimulai. Masih banyak lagi pengalaman hidup yang akan kutemui nantinya seiring dengan berjalannya waktu yang akan membuatku lebih dewasa dan membuat hidupku lebih berarti. Lalu kupejamkan mataku untuk melepas lelah hari itu.