Social Stratification and Social Mobility
Oleh : Agung Dirga Kusuma (10413241027)
Berbicara mengenai Social Stratification and Social Mobility berkaitan erat dengan yang namanya masyarakat, mengapa saya katakan demikian. Karena yang dibahas disini adalah pelapisan sosial dan gerak sosial yang terjadi di dalam masyarakat. Setiap masyarakat pasti mempunyai kedudukan di dalam lingkunganya, ada yang karena Jabatannya di dalam masyarakat, memiliki harta melimpah, keturunan bangsawan atau karena disegani berkat ilmu yang dimilikinya. Misalnya jika di suatu masyarakat tertentu yang sangat menghargai kekayaan materiil dari pada hal lainnya, maka siapa saja mereka yang mempunyai kekayaan materiil akan menempati kedudukan yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan pihak lain dan mereka yang menduduki lapisan yang lebih rendah bisa melakukan mobilisasi vertikal ke atas untuk bisa naik ke lapisan yang lebih tinggi. Oke saya kan bahas satu per satu. J
A. Social Stratification
Social Startification atau yang sering disebut stratifikasi sosial(pelapisan sosial) adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (secara Hierarkis).
Timbulnya Pelapisan sosial itu sendiri bisa karena adanya sesuatu yang dihargai di dalam masyarakat itu, sesuatu itu akan menjadi bibit yang dapat menumbuhkan adanya sistem lapisan dalam masyarakat itu. sesuatu yang dihargai di dalam masyarakat dapat berupa uang atau benda-benda yang bernilai ekonomis, tanah, kekuasaan, ilmu pengetahuan, kesalehan dalam agama atau mungkin juga keturunan yang terhormat.
Ada dua tipe sistem lapisan sosial yaitu sistem pelapisan sosial yang terjadi dengan sendirinya dan sistem lapisan sosial yang sengaja disusun untuk mengejar suatu tujuan bersama. Adapun alasan mengapa terbentuknya lapisan masyarakat yang terjadi dengan sendirinya adalah kepandaian, tingkat umur (yang senior), sifat keaslian keanggotaan kerabat seorang kepala masyarakat, dan mungkin juga harta dalam batas-batas tertentu. Sedangkan alasan terbentuknya lapisan sosial yang sengaa disusun untuk mengejar suatu tujuan bersama adalah adanya pembagian kekuasaan dan wewenang resmi dalam organisasi-organisasi formal, seperti pemerintahan, perusahaan, partai politik, angkatan bersenjata atau perkumpulan
Sifat Lapisan Sosial dalam Masyarakat
1. Tertutup (closed social Stratification)
Sistem lapisan sosial tertutup tidak memungkinkan pindahnya seseorang dari satu lapisan ke lapisan yang lain, baik gerak pindahnya itu keatas atau kebawah. Di dalam sistem yang demikian, satu-satunya jalan untuk masuk menjadi anggota suatu lapisan dalam masyarakat adalah kelahiran. Contohnya pada masyarakat India yang mempunyai kasta dan juga dapat kita lihat di masyarakat Bali.
2. Terbuka (open social stratification)
Salam sistem ini, setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk berusaha dengan kecakapan sendiri untuk naik lapisan atau bagi mereka yang tidak beruntung, bisa jatuh dari lapisan yang atas ke lapisan di bawahnya.
Kelas Sosial (social class)
Kelas sosial adalah semua orang dan keluarga yang sadar akan kedudukannya di dalam suatu lapisan, sedangkan kedudukan mereka itu diketahui serta diakui oleh mesyarakat umum.
Pendapat mengenai kelas Menurut Max Weber
> Membuat perbedaan antara dasar-dasar ekonomis dan dasar-dasar kedudukan sosial, dan tetap menggunakan istilah kelas terhadap semua lapisan. Adanya kelas yang bersifat ekonomis dibaginya lagi dalam kelas yang bersandarkan atas pemilikan tanah dan benda-benda, serta kelas yang bergerak dalam bidang ekonomi dengan menggunakan kecakapannya. Adanya golongan yang mendapat kehormatan khusus dari masyarakat dan dinamakannya stand.
Ukuran-ukuran yang biasa dipakai untuk menggolongkan anggota masyarakat kedalam lapisan-lapisan adalah :
1. Ukuran kekayaan
2. Ukuran kekuasaan
3. Ukuran kehormatan
4. Ukuran ilmu pengetahuan
Unsur-unsur baku dalam sistem lapisan sosial dalam masyarakat adalah sebagai berikut :
1. Kedudukan ( status)
- Azcribed status (diperoleh karena kelahiran)
- Achieved status (diperoleh dengan usaha)
- Assigned status (diperoleh dari pemberian penghargaan atas jasa)
2. Peranan (role)
Contoh Stratifikasi sosial pada masyarakat Palembang :
Di Palembang, Sumatera Selatan terdapat pemukiman masyrakat yang masih memiliki garis keturunan bangsawan, Kesultanan Palmebang. Cikal bakal mereka diduga dari bangsawan-bangsawan kerajaan Majapahit sehingga jumlah kata dalam bahasa komunikasi memiliki kesamaan. Elite tradisional yang masih terdapat di Palembang membentuk masyarakat dengan stratifikasi sosial yang didasrakan atas tingkat kebangsawanannya, seperti Raden, Mas Agus, Ki Agus, dan Kemas untuk bangsawan laki-laki. Sedangkan untuk gelar kebangsawanan wanita, yaitu Raden Ayu, Mas Ayu, Nyi Ayu, dan Nyi Mas. Disamping itu terdapat kelas rakyat jelata yang sering memekai sebutan Si.
Dalam stratifikasi sosial, raden sebgai bangsawan tertinggi dan sekaligus kelas penguasa yang dalam menjalankan tugas sehari-hari dibantu oleh Mas Augus dan Mas Ayu. Sedangkan Ki Agus sebagai penasehat kelas penguasa atau Rade dan Kemas sebagai tentara atau bodyguard, denga persenjataan keris, pedang, dan tombak. Untuk kelompok rakyat jelata sebagai pekerja, pembantu, petani dan pedagang. Pada zaman Belanda, golongan bangsawan yang bergelar Radenmendapat
perhatian, dengan hidup enak dan fasilitas tercukupi. Mereka mnedapat tunjangan dari pemerintah, kemudahan kerja, dan pendidikan. Oleh sebab itu mereka tidak mau membaur dengan masyarakat kelas bawah atau rakyar jelata. Namun demikian setelah kemerdekaan Indonesia, yang dibarengi perubahan sosial, mereka mulai mengelompok di lokasi tertentu. Pusat pemukiman mereka tedapat di 19 Ilir, 28 Ilir yang sering di sebut Depaten Lama atau Sekanak. Sedangkan pemukiman lain didaerah 24 Ilir yang sering disebut daerah Kebon Duku.
Stratifikasi Sosial Masyarakat Adat di Ternate
Sumber dari : Busranto Abdullatif Doa, S.Pd
Dahulu, masyarakat Ternate terbagi dalam Strata Sosial yang masih bersifat tradisional dan cenderung ke arah monarkis. Meskipun penggolongan masyarakat tidak setajam serperti adanya kasta-kasta dalam struktur Sosial-Feodal, namun terdapat penggolongan yang bertolak atas dasar keturunan. Dengan demikian pembagian masyarakat tradisional di Ternate tidak bersifat fungsional. Adapun stratifikasi sosial masyarakat adat di Ternate terbagi atas :
1. Golongan JOU.
Yaitu Golongan Istana, yang terdiri dari Sultan dan keluarganya, sampai tiga turunan satu garis lurus langsung. Sebutan terhadap kedua golongan ini, misalnya ; Jou Kolano (Yang Mulia Sultan) dengan nama kebesaran ; Paduka Sri Sultan Said ul-Biladi Siraj ul-Mulki Amir ud-dini Maulana as-Sultan (……nama sultan……). Sedangkan sebutan untuk permaisuri Sultan : Jo-Boki, (singkatan dari kata Jou ma-Boki), Sebutan untuk anak putra Sultan : Kaicili Putra, dan Boki Putri (Putri Sultan).
2. Golongan DANO.
Yaitu Golongan Keluarga Cucu Sultan dan anak-anak yang dilahirkan dari putri sultan dengan orang dari luar lingkungan istana/masyarakat biasa, juga termasuk keturunan dari kakak maupun adik kandung sang Sultan.
Penutup kepala pejabat kesultanan (Kapita/Fanyira)
3. Golongan BALA.
Golongan ini sering disebut dengan (Bala Kusu se-Kano-Kano), yaitu mereka yang berada di luar kedua golongan di atas, (rakyat biasa).
Penutup kepala khas Golongan Bala/Rakyat (Tuala Kuraci)
Untuk membedakan antara ketiga golongan tersebut, secara nyata dalam keseharian masyarakat adat di Ternate bisa dilihat dari penutup kepala yang digunakan pada pelaksanaan acara-acara adat baik seremonial maupun ritual.
B. Social Mobility
Gerak sosial(social mobility) adalah gerak dalam struktur sosial, yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. Struktur sosial mencakup sifat-sifat hubungan antara individu dalam kelompok itu dan hubungan antara individu dan kelompoknya.
Tipe-tipe gerak sosial yang prinsipil ada dua macam :
1. Horizontal, yaitu bila individu atau objek sosial lainnya berpindah dari satu kelompok sosial yang satu ke kelompok sosial lainnya yang sederajat
2. Vertical, yaitu bila individu atau objek sosial lainnya berpindah dari satu kedudukan sosial ke kedudukan sosial lainnya yang tidak sederajat. Sesuai dengan arahnya, maka terdapat dua jenis gerak sosial yang vertikal, yaitu yang naik (social climbing) dan yang turun (social sinking).
Beberapa contoh mobilitas sosial :
1. Pak Teguh adalah seorang guru di SMA Negeri 4 Pagaralam, dia mempunyai anak laki-laki yang sekarang sudah menjadi Dosen di STKIP Muhammadiyah Pagaralam. Ini merupakan contoh mobilitas vertikal ke atas antar generasi.
2. Bu Rodiah adalah seorang Ibu penjual sate keliling tamatan SMA, kondisi ekonominya sangat sulit. Akibatnya ibu Rodiah hanya bisa menyekolahkan anaknya sampai tamatan SD. Ini merupakan contoh mobilitas vertikal menurun.
3. Bang Agus adalah seorang petani karet, dia juga mempunyai anak yang menjadi petani karet di daerah lain. Ini merupakan contoh mobilitas horizontal.
Referensi diambil dari buku (SOSIOLOGI SUATU PENGANTAR) Soerjono Soekamto.



0 komentar:
Posting Komentar