Sejarah dan Pendidikan

Posted in Selasa, 22 November 2011
by satria

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Sejarah merupakan suatu studi yang berusaha untuk mendapatkan pengertian tentang segala sesuatu yang telah dialami oleh manusia dimasa lampau yang bukti- buktinya masih bisa ditelusuri atau ditemukan dimasa sekarang. Salah satu guna sejarah adalah sebagai guna edukatif dimana menyadari makna sejarah sebagai masa lampau yang penuh arti , yang selanjutnya berarti bahwa kita bisa mengambil dari sejarah nilai- nilai berupa ide- ide maupun konsep- konsep kretif sebagai sumber motivasi bagi pemecahan masalah- masalah pada masa kini dan selanjutnya untuk merealisir harapan- harapan dimasa datang. Itu sebabnya sejarah berhubungan dengan pendidikan yang mana sejarah hakekatnya yang memberikan bahan – bahan bagi berjalannya proses pengembangan daya – daya manusia yang menjadi inti pokok dari pendidikan tersebut.

2. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian pendidikan?
2. Bagaimana sejarah dalam perspektif pendidikan?

3. Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah ini untuk mengkaji apa arti pendidikan, serta mengkaji bagaimana sejarah dalam perspektif pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Pendidikan
Pendidikan dalam perspektif nasional, seperti ditegaskan oleh Ki Hajar Dewantara, dimaksudkan sebagai “ Pendidikan yang beralaskan garis hidup dari bangsanya dan ditujukan untuk keperluan perikehidupan yang dapat mengangkat derajat negara dan rakyatnya, agar dapat bekerja bersama- sama dengan lain- lain bangsa untuk kemuliaan segenap manusia diseluruh dunia”.
Mengenai pengertian pendidikan itu sendiri, oleh Soegarda Poerkawatja antara lain dirumuskan sebagai :
Semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuannya, pengalamannya, kecakapan serta ketrampilan (cultuurroververdracht) kepada generasi muda sebagai usaha menyiapkannya agar dapat memenuhi fungsi hidupnya jasmaniah maupun rohaniah serta mampu memikul tanggung jawab moril dari segala perbuatannya.
Dengan singkat pendidikan dirumuskan oleh Simandjoentak sebagai “ tindakan yang dengan sengaja dilaksanakan untuk membawa anak itu kearah yang dikehendaki”
Pendekatan kultural yang terkandung dalam pengertian seperti ini mengacu terutama pada peranan pendidikan sebagai unsur pokok dari proses dasar dalam kehidupan manusia, yaitu sosialisasi dan ekulturasi yang pada pokoknya adalah proses pewarisan / penurunan nilai- nilai sosial kultural pada individu- individu anggota kelompok dalam rangka penyesuaian / pengintegrasian individu dalam kelompok.
2. Sejarah dalam perspektif pendidikan
a. Masa lampau dan pewarisan nilai
Dari gambaran diatas terlihat hubungan antara pendidikan dengan masa lampau, yakni yang berkisar di sekitar nilai- nilai, dalam hal ini nilai- nilai yang berkembang pada generasi terdahulu yang perlu diwariskan pada generasi terdahulu yang perlu diwariskan pada generasi masa kini, bukan saja untuk pengintegrasian individu kedalam kelompok, tapi lebih dari pada itu, sebagai bekal kekuatan menghadapi masa kini dan bahkan juga masa yang akan datang. Lebih- lebih jika kita menyadari tujuan pendidikan nasional kita, yang pada dasarnya ingin mengembangkan diri maupun bangsanya serta lingkungannya serta terbinanya hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan kelompok , dengan alam dan Tuhan YME.
Mengembangkan manusia seperti digambarkan di atas dengan sendirinya memerlukan sarana motivasi yang kuat sebagai faktor penggerak dari dalam manusia sendiri. Dan apa yang kita katakan sarana motivasi yang bersifat kejiwaan itu tidak lain sesungguhnya yang sering kita sebut nilai – nilai, dalam hal ini nilai – nilai masa lampau yang telah teruji oleh jaman. Berbicara tentang nilai – nilai masa lampau, pada hakeketnya membicarakan tentang sejarah. Sejarah sebagai memori pada seorang individu, maka dari itu sejarah pada hakekatnya menjalakankan fungsi sejarah yaitu mengabadikan pengalaman – pengalaman masyarakat pada masa lampau dalam bentuk cerita, yang mula – mula bersifat cerita lisan dan kemudian berkembang menjadi cerita tertulis yang kritis.
Demikianlah, kalau tadi dikatakan bahwa pendidikan adalah usaha mengembangkan daya – daya manusia berarti menyadari kemampuan manusia dan kita tahu kemampuan kita apabila telah melakukan sesuatu atau tegasnya dari apa yang telah kita lakukan atau secara lebih luasnya dari masa lampau kita.
Apabila pendidikan dianggap sebagai suatu usaha bahkan sebagai suatu investasi dalam rangka mencapai suatu tujuan nasional, maka sejarah adalah sumber kekuatan untuk menggerakan usaha atau investasi tersebut. Semakin kita menyadari nilai sejarah semakin kita mempu yai kekuatan untuk menumbuhkan sifat/ watak / kemampuan yang diinginkan.
R.B.Perry mengatakan bahwa: “ melalui pendidikan manusia mendapatkan unsur – unsur peradaban masa lampau, dan memungkinkan baik untuk mengambil peranan dalam peradaban masa kini maupun untuk membentuk peradaban dimasa yang akan datang”.
Dengan demikian dapat di simpulkan bahwa dimana proses pendidikan tidak bisa berjalan tanpa dukungan sejarah, karena sejarahlah hakekatnya yang memberikan bahan – bahan bagi berjalannya proses pengenbangan daya – daya manusia yang menjadi inti pokok dari pendidikan tersebut.
b. Pewarisan nilai dan kesadaran sejarah
Sejarah tidak dengan sendirinya akan berfungsi bagi proses pendidikaan yang menjurus kearah penumbuhan dan pengembangan karakter bangsa. Boleh dikatakan ada suatu syarat untuk menjadikan sejarah ada dalam posisi yang fungsional dalam perspektif pendidikan. Syarat tersebut adalah kesadaran sejarah. Karena bisa dikatakan bahwa kesadaran sejarah yang menyangkut kondisi kejiwaan yang menunjukan tingkat penghayatan pada makna dan hakekat sejarah bagi masa kini dan masa yang akan datang menjadi dasar pokok bagi berfungsinya makna sejarah dalam perspektif pendidikan.
















BAB III
KESIMPULAN
1. Kesimpulan
Perspektif sejarah melihat masa kini tidak terlepas dari masa lampau dan identitasnya. Sebaliknya, gambaran masa lampau ditentukan oleh pandangan masa kini. Masih banyak kiranya usaha-usaha atau cara-cara yang bisa ditempuh dalam menumbuhkan kesadaran sejarah tersebut, tapi yang penting dalam hal ini adalah sifat komunikatif dari media tersebut, disamping cara pengungkapannya yang merangsang bagi sentuhan ke peristiwa masa silam.
2. Saran
Kami selaku penyusun makalah ini menyadari masih banyak kekurangan di sana-sini dalam menyajikan materi, hal ini di karenakan kami masih dalam tahap pembelajaran, kami rasa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca guna melengkapi makalah kami.





DAFTAR PUSTAKA
IG Widja, 1988, Pengantar Ilmu Sejarah-sejarah Dalam Perspektif Pendidikan, Semarang : Satya Wacana
Kartodirdjo Sartono, 1993, Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah, Jakarta : Gramedia