Laporan Observasi Pasar Beringharjo Yogyakarta

Posted in Selasa, 22 November 2011
by satria


PERUBAHAN  POLA PEMBAGIAN KERJA BERDASARKAN JENIS KELAMIN PADA BURUH GENDONG YANG MERUPAKAN SALAH SATU MATA PENCAHARIAN HIDUP DI PASAR BERINGHARJO YOGYAKARTA
Paper ini disusun guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah Antropologi Sosial
Dosen Pengampu Poerwanti Hadi Pratiwi, S.Pd, M.Si

DISUSUN OLEH :
NAMA                                   :AGUNG DIRGA KUSUMA        
NIM                                        : 10413241027
MATA KULIAH                  : ANTROPOLOGI SOSIAL


PENDIDIKAN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2011

A.     LATAR BELAKANG MASALAH
 Dewasa ini Pengangguran merupakan salah satu masalah tenaga kerja yang berpengaruh besar bagi perekonomian Indonesia. Di Indonesia jumlah angka pengangguran selalu mengalami peningkatan. Hal ini karena disebabkan oleh beberapa faktor. Pengangguran dapat terjadi pada saat pertambahan jumlah penduduk lebih besar dari pada pertambahan lapangan kerja. Akibatnya tidak semua penduduk produktif dapat ditampung oleh lapangan kerja yang ada. Orang-orang yang tidak bisa bekerja ini akan menjadi pengangguran. Terjadinya pengangguran juga disebabkan karena rendahnya kualitas tenaga kerja. Mereka tidak mampu bersaing dengan tenaga kerja yang memiliki kualitas yang lebih baik. Akibatnya orang-orang yang mempunyai kualitas rendah akan menganggur. Selain itu masalah pengangguran juga dapat disebabkan karena lowongan kerja yang ada tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan. Orang-orang yang mempunyai latar belakang berbeda dengan yang diharapkan perusahaan, tidak dapat bekerja. Akibatnya pengangguran bertambah. Karena tidak memiliki keterampilan maka mereka mencari pekerjaan yang tidak membutuhkan keterampilan khusus, salah satunya yaitu menjadi buruh gendong yang ada di pasar Beringharjo Yogyakarta. Buruh gendong merupakan pekerjaan yang mengandalkan kekuatan fisik yang identik dengan pekerjaan laki-laki. Buruh gendong yang dulunya dikerjakan oleh kaum laki-laki sekarang dikerjakan oleh kaum wanita. Adanya perubahan norma, nilai dan pola perilaku disini desebabkan karena adanya penyempitan pemilikan tanah penduduk desa, khususnya wanita telah menyebabkan tenaga kerja wanita meninggalkan desa asalnya, mencari mata pencaharian lain. Dengan adanya gejala penyempitan usaha tani yang diderita selama ini mendorong para wanita untuk meninggalkan desa mereka dan menuju tempat baru antara lain menjadi buruh gendong dengan harapan dapat mengubah nasib yang dialami selama di desa asalnya. Umumnya dari mereka tidak mempunyai latar belakang pendidikan yang tinggi, kebanyakan dari mereka tidak tamat sekolah dasar. Menjadi buruh gendong adalah salah satu yang bisa mereka lakukan karena buruh gendong tidah harus mempunyai keterampilan untuk melakukan pekerjaanya.


B.     KAJIAN PUSTAKA
1.      Perubahan Sosial
Setiap masyarakat manusia selama hidup pasti mengalami perubahan-perubahan. Perubahan masyarakat dapat mengenai nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, pola-pola prilaku organisasi, susunan lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial dan sebagainya. Dengan diakuinya dinamika sebagai inti jiwa masyarakat, banyak peneliti modern yang mencurahkan perhatiannya pada masalah-masalah perubahan sosial dan kebudayaan dalam masyarakat. Masalah tersebut menjadi lebih penting lagi dalam hubungannya dengan pembangunan ekonomi yang diusahakan oleh banyak masyarakat negara-negara yang memperoleh kemerdekaan politiknya setelah Perang Dunia II.
Sebagian besar ahli ekonomi mula-mula mengira bahwa suatu masyarakat akan dapat membangun ekonominya dengan cepat apabila telah dicukupi dan dipenuhi syarat-syarat yang khusus diperlukan dalam bidang ekonomi. Akan tetapi, pengalaman mereka yang berniat untuk mengadakan pembangunan ekonomi dalam masyarakat-masyarakat yang baru mulai dengan pembangunan terbukti bahwa syarat-syarat ekonomis saja tidak cukup untuk melancarkan pembangunan. Di samping itu, diperlukan pula perubahan-perubahan masyarakat yang dapat menetralkan faktor-faktor kemasyarakatan yang mengalami perkembangan. Hal itu dapat memperkuat atau menciptakan faktor-faktor yang dapat mendukung pembangunan tersebut.
Perubahan sosial merupakan perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Menurut Mac Iver perubahan-perubahan sosial dikatakan sebagai perubahan-perubahan dalam hubungan sosial (social relationships) atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan (equilibrium) hubungan sosial. Sedangkan menurut Selo Soemardjan perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Tekanan pada definisi tersebut terletak pada lembaga-lembaga kemasyarakatan sebagai himpunan pokok manusia yang kemudian mempengaruhi segi-segi struktur masyarakat lainnya.

2.      Pengertian Buruh Gendong
Buruh, kata ini mengingatkan pada sekelompok orang yang termarjinalkan. Sekelompok orang yang dianggap rendah, kasar tak berpendidikan dan hanya mengandalkan ototnya untuk mengais rejeki, mencari sesuap nasi guna menyambung hidupnya.
Kata buruh juga mempunyai konotasi buruk, dimana buruh dianggap identik dengan komunisme, kemiskinan dan kebodohan. Padahal, definisi buruh menurut ILO (international Labor Organization), buruh berarti seseorang yang bekerja pada orang lain atau sesuatu badan dan mendapatkan upah sebagai imbalan atas jerih payahnya menyelesaikan pekerjaan yang dibebankan kepadanya.
Kerja yang mengandalkan kekuatan fisik rapuh atau sering disebut “bargaining power” sangat mudah dimasuki oleh siapa saja tanpa prasyarat apapun. Mereka disebut buruh gendong, disebuah pasar yang terbesar di DIY terdapat 400 orang buruh gendong. Meskipun demikian kerja pokok buruh gendong ini sangat bervariasi.

3.      Pengertian Pengguna Jasa
Pengguan jasa buruh gendong disini terdiri dari penjual dan pembeli. Penjual adalah orang yang mempunyai barang dagangan untuk dijual langsung kepada tangan pemakai akhir atau konsumen dengan jumlah satuan atau dengan jumlah banyak. Pembeli diambil dari istilah asing (Inggris) yaitu consumer, secara harfiah dalam kamus-kamus diartikan sebagai ”seseorang atau sesuatu perusahaan yang membeli barang tertentu atau menggunakan jasa tertentu”; atau ”sesuatu atau seseorang yang menggunakan suatu persediaan atau sejumlah barang “. Ada juga yang mengartikan “setiap orang menggunakan barang atau jasa “.



4.      Pengertian Pasar
Pasar dalam pengertian pemasaran adalah orang-orang ataupun organisasi yang mempunyai kebutuhan akan produk yang kita pasarkan dan mereka itu memiliki daya beli yang cukup guna memenuhi kebutuhan mereka itu. Dalam arti sempit, pasar adalah tempat terjadinya transaksi jual-beli yang di lakukan oleh penjual dan pembeli yang berlangsung pada saat dan tempat tertentu. Sebagai suatu kelompok, para pembeli menentukan seberapa banyak permintaaan, dan sebagai suatu kelompok yang lain, sebagai penjual menentukan seberapa banyak penawaran barang tersebut. Dalam arti luas, pasar merupakan orang-orang yang mempunyai keinginan untuk memenuhi kebutuhan, uang untuk belanja, dan kemauan untuk membelanjakan.

5.      Teori Perubahan Sosial
Para ahli berpendapat bahwa perubahan sosial teradi karena adanya perubahan dalam unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan masyarakat, seperti misalnya perubahan dalam unsur-unsur geografis, biologis, ekonomis, atau kebudayaan. Kemudian, ada pula yang berpendapat bahwa perubahan-perubahan sosial bersifat periodik dan non periodik. Teori-teori yang berkaitan dengan arah perubahan sosial telah diringkas Moore salah satunya yaitu evolusi rektilinier yang sederhana, evolusi melalui tahapan-tahapan dan evolusi yang terjadi dengan tahap kelanjutan yang tidak serasi.


C.     PEMBAHASAN
1.      Deskripsi objek penelitian
Buruh gendong sudah ada sejak tahun 1984 di Pasar Beringharjo. Ibu Parijah(40), Sri(37) dan Tati(57) adalah salah satu potret seorang buruh gendong yang ada di Pasar Beringharjo. Mereka sudah sekitar lima tahun sampai puluhan tahun bekerja menjadi buruh gendong di Pasar Beringharjo. Sebagian besar para buruh gendong dari luar Yogyakarta, seperti Kulonprogo, Bantul dan Gunungkidul. Mereka bekarja dari pukul 05.00 WIB sampai dengan pukul 16.00 WIB. Alasan mereka bekarja adalah untuk menambah pendapatan penghasilan keluarga mereka karena bekerja sebagai petani di desa tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Buruh gendong bukanlah menjadi pekerjaan utama mereka, itu hanya menjadi pekerjaan sampingan. Umumnya mereka adalah petani padi dan pedagang musiman. Mereka menjadi buruh gendong saat belum panen. Walaupun buruh gendong menjadi pekerjaan sampingan mereka, tetapi sangat berpengaruh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tanggapan mereka mengenai buruh gendong adalah seorang buruh kerja kasar dan miskin yang seharusnya tidak mereka lakukan, karena pekerjaan ini identik dengan kaum laki-laki. Walaupun demikian mereka tetap melakukannya karena tidak mempunyai keterampilan lain untuk mencari pekerjaan yang lebih layak. Biasanya mereka mengangkut barang yang beratnya mencapai 30 kg dan dibayar hanya Rp.3000. itu dilakukan sepanjang hari, kadang mereka bisa membawa pulang sehari Rp. 15.000,-. Dan kadang pula tidak membawa hasil apapun. Pekerjaan ini terlalu berat untuk seorang wanita tapi mereka tetap melakukannya dengan senang hati. Kebanyakan orang mengganggap pekerjaan ini adalah pekerjaan yang hina tetapi apakah orang itu tidak melihat bahwa sebenarnya pekerjaan menjadi seorang buruh gendong  adalah pekerjaan mulia yang senantiasa berusaha membantu orang lain dari pada menjadi pejabat berdasi yang kerjanya hanya duduk manis menikmati uang hasil korupsi. Seorang buruh gendong juga mempunyai cita-cita yang mulia, mereka masih sempat berfikir untuk ikut membangun Indonesia disaat himpitan ekonomi yang sulit di keluarga mereka.
Buruh gendong yang ada di Pasar Beringharjo juga memiliki organisasi yang bisa membantu mereka yaitu Yasanti (yayasan annisa swasti) . Maksud organisasi ini adalah untuk menciptakan kemandirian dan potensi yang ada pada tenaga kerja wanita. Buruh gendong  yang ada di Pasar Beringharjo berjumlah sekitar 500 orang, tetapi yang masuk organisasi Yasanti hanya sekitar 200 orang.

2.      Analisis hasil penelitian
Pasar merupakan tempat terjadinya transaksi jual beli antara penjual dan pembeli. Pengertian  pasar dalam arti sempit, Pasar adalah tempat terjadinya transaksi jual-beli yang di lakukan oleh penjual dan pembeli yang berlangsung pada saat dan tempat tertentu. Sebagai suatu kelompok, para pembeli menentukan seberapa banyak permintaaan, dan sebagai suatu kelompok yang lain, sebagai penjual menentukan seberapa banyak penawaran barang tersebut. Dalam arti luas, pasar merupakan orang-orang yang mempunyai keinginan untuk memenuhi kebutuhan, uang untuk belanja, dan kemauan untuk membelanjakan.
Pasar Beringharjo merupakan pasar tradisional terbesar di Yogyakarta. Pasar ini sudah ada sejak 1925. Paar ini telah menjadi pusat kegiatan prekonomian masyarakat Yogyakarta selama ratusan tahun dan mempunyai makna historis dan filosofis. Di sini juga terdapat berbagai profesi mulai dari pedagang batik, pedagang pakaian, pedagang sepatu, barang antik, jajanan pasar, bumbu dapur, daging dan lain sebagainya. Selain terdapat pedagang barang di sini juga terdapat Penjual jasa yang terkenal dengan istilah buruh gendong.
Adanya buruh gendong di Pasar Beringharjo ini dapat membantu penjual dan pembeli untuk mengangkut barang dagangannya. Biasanya penjual mendatangkan barangnya menggunakan mobil angkutan yang nantinya mengantarkan barang ke Pasar Beringharjo lantai 1, lantai 2 maupun lantai 3. Kebanyakan mobil pengangkut barang itu mengantarkan barang sampai basement lantai 3. Disana para buruh gendong sudah menunggu untuk menurunkan barang dan kemudian diangkut ke dalam Pasar untuk diantarkan ke pemilik barang tersebut.
 Beberapa buruh gendong sudah memiliki langganan untuk mengangkut barang, mereka telah memiliki tempat-tempat tersendiri di sudut-sudut pasar. Paling banyak tersebar di lantai 3, jumlahnya sekitar 150 orang. Mereka kebanyakan wanita usia antara 30 tahun sampai dengan 60 tahun. Sekali angkut barang, beratnya berkisar 20 kg sampai 30 kg. Kalau lebih dari 30 kg, biasanya mereka saling membantu. Walaupun mereka disana bersaing untuk mendapatkan pelanggan teteapi mereka juga suka saling membantu. Untuk sekali angkut biasanya dapat upah Rp.3.000,-  kadang ada juga yang memberi upah lebih. Sehari penghasilan mereka dapat dari hasil kerja jam 05.00 sampai jam 16.00 menjadi buruh gendong hanya Rp. 15.000,- dan kadang mereka tidak memperoleh hasil sama sekali. Jumlah keseluruan buruh gendong yang ada di Pasar Beringharjo ada sekitar 500 orang, tetapi hanya sekitar 200 orang yang masuk ke dalam anggota Yasanti (yayasan annisa swasti). Yasanti adalah sebuah yayasan yang bergerak menuju penguatan kemandirian perempuan. Maksud dikembangkannya yayasan ini adalah untuk mengembangkan aspirasi dan potensi kaum perempuan dan meningkatkan sumber daya manusia. Yayasan ini juga membantu mereka untuk menyelesaikan masalah yang sering terjadi di antara buruh gendong. Biasanya masalah yang terjadi adalah  buruh gendong yang tidak masuk ke anggotaan Yasanti tidak teratur dan mengambil tempat buruh gendong lainnya. Dalam hal ini Yasanti akan membantu menyelesaikan masalah ini dengan menjadi penengah dari pihak yang bertikai.
Buruh gendong juga bukan satu-satunya pekerjaan mereka. Di desa mereka juga ada yang menjadi petani padi. Disaat musim tanam dan musim panen, jumlah buruh gendong di Pasar Beringharjo menurun. Hal ini disebabkan karena mereka sedang menanam atau memanen padi mereka, tetapi pada saat musim tanam dan musim panen usai mereka kembali lagi menjadi buruh gendong di Pasar Beringharjo.
Dalam setiap masyarakat terdapat kebiasaan dan aturan-aturan mengenai jenis pekerjaan yang dilakukan, siapa yang melakukannya, siapa yang memiliki sumber daya dan peralatan, dan bagaimana pekerjaan itu dilaksanakan. Sumber daya produktif, yang oleh kelompok sosial dapat digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa yang dikehendakinya. Disini buruh gendong dikatagorikan sebagai penghasil jasa.
Dalam setiap masyarakat manusia selalu ada pembagian kerja menurut katagori jenis kelamin dan umur. Pembagian seperti itu hanya sekedar perkembangan langsung pola yang sudah terdapat pada semua primat yang maju. Pembagian pekerjaan menurut jenis kelamin yaitu pekerjaan khusus apa yang dilakukan oleh pria dan wanita, berbeda-beda menurut kelompoknya, tetapi banyak pekerjaan yang dikhususkan bagi anggota jenis kelamin yang satu atau yang lain. Pembagian pekerjaan menurut jenis kelamin telah dipelajari secara luas oleh para ahli antropologi. Misalnya, kita telah melihat bahwa akarnya terdapat dalam biologi, dan bahwa tugas-tugas yang kebanyakan dianggap sebagai tugas wanita adalah pekerjaan yang dapat dilaksanakan di dekat rumah. Pekerjaan yang paling sering dianggap sebagai ”tugas laki-laki” cenderung berupa tugas yang memerlukan kekuatan fisik, pengerahan tenaga besar, sering memerlukan perjalanan jauh dari rumah, dan yang dianggap mengandung resiko dan bahaya besar. Akan tetapi, di samping itu studi tentang pekerjaan yang dilakukan pria dan wanita dalam kelompok-kelompok tertentu segera menunjukkan bahwa ”bentuk-bentuk khusus yang terdapat pada pembagian pekerjaan menurut jenis kelamin itu harus dipandang sebagai perkembangan historis kelompok tradisi-tradisi khusus yang mengatur bangsa tertentu.” Dalam msyarakat industri modern, faktor-faktor biologis yang menjadi dasar pembagian kerja menurut jenis kelamin telah banyak mengalami perubahan. Dari dulunya pekerjaan yang memerlukan kekuatan fisik, pengerahan tenaga besar dan sering memerlukan perjalannan jauh dari rumah dilakukan oleh pria sekarang juga dilakukan oleh wanita, termasuk di sini buruh gendong. Buruh gendong yang dulunya hanya dikerjakan oleh pria kini dikerjakan pula oleh wanita. Awalnya ini tidak sesuai dengan norma, nilai dan pola perilaku masyarakat tradisional tetapi seiring dengan berjalannya waktu mulai ada perubahan disana, mula-mula hanya sedikit wanita yang mengerjakan hal itu dan masih dianggap tabu. Kemudian lambat laun buruh gendong wanita yang dianggap tabu tadi mulai diterima di dalam masyarakat karena sebagian besar masyarakat sudah menganggap itu adalah hal biasa. Sesuai dengan teori perubahan sosial. Sesuatu yang dianggap negatif dari yang seharusnya buruh gendong itu dikerjakan oleh pria kini dikerjakan juga oleh wanita. Di sana telah terjadi perubahan norma, nilai, pola prilaku dan kebudayaan masyarakat, yang dulunya tidak diterima sekarang menjadi diterima oleh sebagian besar masyarakat.


D.     RUMUSAN KESIMPULAN
Dalam setiap masyarakat terdapat kebiasaan dan aturan-aturan mengenai jenis pekerjaan yang dilakukan, siapa yang melakukannya, siapa yang memiliki sumber daya dan peralatan, dan bagaimana pekerjaan itu dilaksanakan. Sumber daya produktif, yang oleh kelompok sosial dapat digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa yang dikehendakinya. Disini buruh gendong dikatagorikan sebagai penghasil jasa. Buruh gendong merupakan pekerjaan yang mengandalkan kekuatan fisik yang identik dengan pekerjaan laki-laki. Buruh gendong yang dulunya dikerjakan oleh kaum laki-laki sekarang dikerjakan oleh kaum wanita. Salah satunya adalah buruh gendong yang ada di Pasar Beringharjo Yogyakarta. Adanya buruh gendong di Pasar Beringharjo ini dapat membantu penjual dan pembeli untuk mengangkut barang dagangannya. Biasanya penjual mendatangkan barangnya menggunakan mobil angkutan yang nantinya mengantarkan barang ke Pasar Beringharjo lantai 1, lantai 2 maupun lantai 3. Kebanyakan mobil pengangkut barang itu mengantarkan barang sampai basement lantai 3. Disana para buruh gendong sudah menunggu untuk menurunkan barang dan kemudian diangkut ke dalam Pasar untuk diantarkan ke pemilik barang tersebut. Buruh gendong juga bukan satu-satunya pekerjaan mereka. Di desa mereka juga ada yang menjadi petani padi. Buruh gendong yang ada di Pasar Beringharjo juga memiliki organisasi yang bisa membantu mereka yaitu Yasanti (yayasan annisa swasti). Pada intinya fenomena perubahan sosial yang terjadi mengenai buruh gendong yang tadinya dikerjakan oleh pria sekarang dikerjakan oleh wanita merupakan indikator bahwa sekarang pola pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin sudah mulai dihilangkan.



Referensi :
Galih Sumaretya Mahasty. 2010. Interaksi antara buruh gendong dengan lingkungan sosial di pasar beringharjo propinsi yogyakarta. Skripsi S1 Jurusan pendidikan sosiologi. Fakultas ilmu sosial dan ekonomi UNY.
Indriyo Gitosudarmo. 1994. Manajemen Pemasaran. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta
Soerjono Soekanto. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers
William A. Haviland. 1985. Antropologi 4th Edition. CBS College Publishing.







GAMBAR OBJEK PENELITIAN

Gambar 1. Interaksi yang terjadi dengan pengguna jasa.




Gambar 3. Buruh gendong Pasar Beringharjo.

Gambar 3. Seorang Buruh gendong menurunkan kelapa dari mobil barang.



Gambar 4. Kerjasama yang terjadi antar buruh gendong.